Surat Terbuka Dokter Untuk Direktur BPJS

Pernyataan Direktur Hukum, Komunikasi dan Hubungan Antarlembaga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Bayu Wahyudi tentang hasil penelitian dari sebuah survei yang menunjukkan hanya sekitar 29 persen para dokter di Puskesmas yang melaksanakan standar operasional prosedur pemeriksaan kepada setiap pasien mendapat tanggapan dari para dokter.

Bayu yang juga menyatakan dalam sebuah seminar bahwa 71 % dokter Puskesmas hanya pegang-pegang dalam melakukan pemeriksaan kesehatan dianggap oleh para dokter tidak memahami realita yang sebenarnya.

Menanggapi pernyataan Bayu tersebut, beredar Surat Terbuka oleh seorang dokter yang beredar di media sosial.



Berikut isi lengkap surat terbuka.


Surat Terbuka
Kepada Yth
Bapak Bapak Pimpinan BPJS

Sekali lagi masyarakat dikejutkan dengan pernyatan seorang direktur BPJS dengan menyatakan bahwa 71% pasien di Puskesmas diperiksa oleh dokter dengan cara cuma dipegang pegang saja. Pernyataan itu sebetulnya bisa mempunyai beragam makna, tetapi jika kita baca utuh statemen direktur tersebut di media massa jelas dan terang benderang cenderung menyalahkan dokter karena akibat hal itu angka rujukan dari puskesmas tinggi.

Yang pertama perlu saya sampaikan bahwa Puskesmas itu bisa saja mempunyai satu atau dua dokter. Seorang dokter bisa melayani antara 50 sampai 100 pasien. Jika seorang dokter memeriksa pasiennya selama 10 sampai 15 menit maka waktu yang dibutuhkan adalah 500 menit sampai 1500 menit. Kalau kita konversikan menjadi jam maka waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan pasien dipuskesmas adalah antara 9 jam sampai 24 jam.

Jika jam pendaftaran dimulai jam 08.00 pagi dan mulai pemeriksaan jam 09.00 maka pasien akan habis diperiksa setelah jam 18.00 sore atau jam 09.00 pagi besoknya. Jika kita berasumsi ada dua orang dokter maka pasien akan selesai jam 13.30 sampai 21.00 malam harinya. Saya punya ilustrasi kejadian yang saya alami sendiri. Pada saat itu sebagai kepala Puskesmas saya harus pergi rapat sehingga pemeriksaan pasien saya serahkan kepada dokter kedua. Ada was was dihati saya memang meninggalkannya, tetapi karena keperluan tersebut tidak bisa diwakili maka akhirnya saya tinggalkan. Sesudah saya kembali jam 15.00 sore, ternyata Puskesmas masih ramai dan saya langsung didatangi oleh petugas bahwa masih ada pasien sekitar 30 orang lagi. Pemeriksaan akhirnya saya bantu dan dapat selesai setelah sekitar 1 jam. Saya bicara dengan dokter kedua persis seperti asumsi diatas bahwa jika seorang dokter memeriksa selama 15 menit maka dalam 1 jam selesai 4 pasien dan dalam 6 jam baru akan selesai sebanyak 24 pasien dan kebetulan hari itu ada 60 pasien. Persis seperti prediksi saya.

Pemeriksaan apa yang dilakukan pada pasien? Apakah pegang pegang saja. Mungkin Bapak Direktur BPJS tidak pernah memeriksa pasien sejak mulai bertugas. Mungkin beliau begitu selesai langsung bertugas di manajemen sampai saat ini sehingga lupa. Ada 2 macam cara menegakkan diagnosa yaitu anamnesa dan pemeriksaan fisik. Anamnesa dilakukan dengan cara berbicara dan mengambil informasi dari pasien. Tegasnya cuma ngobrol ngobrol doang, dan menurut guru guru kami hal itu dapat menegakkan 60% diagnosa. Selanjutnya adalah pemeriksaan fisik yaitu dengan cara Inspeksi atau melihat lihat doang, Palpasi yaitu dengan memegang megang doang, Perkusi yaitu dengan mengetok ngetok doang dan Auskultasi yaitu dengan mendengar menggunakan stetoskop. Kemudian tegaklah diagnosa klinis. Jadi jelas bahwa bincang bincang saja dan cuma pegang pegang saja akan tegak diagnosa.

Saya tidak tahu prosedur lain menegakkan diagnosa karena dimanapun seorang dokter melakukan pemeriksaan pasti prosedurnya akan sama karena itu prosedur yang berlaku universal.

Untuk memastikan pemeriksaan diperlukan pemeriksaan penunjang. Dipuskesmas ada labor sederhana untuk pemeriksaan laboratorium sederhana dan juga ada mikroskop untuk pemeriksaan sputum tetapi tidak semua puskesmas memilkinya dan pemeriksaan itu dilakukan oleh tenaga khusus yang dilatih untuk hal itu dan nanti mereka melapor kedokter tentang hasilnya. Pemeriksaan penunjang yang lain seperti Rontgen, USG, CT Scan, MRA, MRI, Laboratorium Klinik dilakukan di rumah sakit dan dilakukan oleh tenaga yang lebih terlatih. Puskesmas tidak memiliki alat itu.

Lalu kenapa alat itu tidak ada di Puskesmas, karena Puskesmas memang lebih banyak melakukan tugaspromotif, preventif ketimbang pengobatan. Pengobatan hanya satu program dari puluhan program di Puskesmas. Tugas seorang dokter Kepala Puskesmas malahan lebih banyak untuk hal ini demikian juga seorang dokter puskesmas. Apakah alat tersebut diperlukan?, memang tidak diperlukan karena tugas puskesmas sebagian besar bukan kuratif tetapi preventif.

Seorang dokter puskesmas yang melakukan tugasnya dengan benar malahan akan lebih banyak berada di desa ditengah komunitasnya. Seorang dokter di puskesmas bukanlah seorang dokter praktek klinis, tetapi seorang dokter yang bekerja dengan tugas lebih banyak ke pencegahan. Lucu malahan kalau melihat seorang dokter dari pagi sampai sore duduk di puskesmas menunggu pasien. Itulah yang kami lakukan di Puskesmas.

Lalu bagaimana dengan pasien yang banyak di puskesmas?. Seorang dokter akan berbagi dengan perawatnya untuk kasus baru dan kasus berulang. Untuk kasus baru harus ditangani dokter, untuk kasus tambah obat misalnya pasien TBC bisa langsung ke petugas dan mungkin akan diperiksa dokter setiap bulan saja. Untuk pemeriksaan tensimeter dan suhu dilakukan petugas kecuali kalau dokter merasa perlu melakukannya.

Apakah keterangan saya ini valid?. Itu akan jadi pertanyaan pihak pihak yang meragukan hal ini. Perlu saya sampaikan bahwa saya seorang dokter subspesialis yang bertugas saat ini di Rumah Sakit Rujukan Nasional, merangkak dari bawah memulai dari Puskesmas Terpencil dan sebagian besar wilayahnya tak dapat ditempuh dengan sepeda motor, hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Beberapa desa hanya dapat ditempuh dengan perjalanan lebih 12 jam berjalan kaki. Selama bertugas di Puskesmas merupakan seorang Pimpinan Puskesmas Berprestasi Tingkat Propinsi selama dua tahun berturut turut dan juga seorang Dokter Teladan Propinsi dan beberapa bidan serta perawat kami juga merupakan teladan propinsi, Posyandu kami saat itu juga merupakan nomor satu di propinsi dan Puskesmas saya merupakan tiga besar Pusat Pelayanan Percontohan tingkat Propinsi dibawah RSU Propinsi dan PDAM Kotamadya di ibukota propinsi dan memperoleh AdiSatya Bhakti. Apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini bukanlah hal mengada ngada, tetapi fakta yang terjadi di Puskesmas dan tentu saja seiring dengan perjalanan waktu akan ada perbaikan. Tetapi kembali kita ke konsep Puskesmas yang lebih mengedepankan Preventif, maka tentu tidak akan banyak perubahan.

Kembali ke Direktur BPJS tersebut. Saya heran kok bisa dia yang menghakimi dokter dokter puskesmas di media massa. Tugas evaluasi keilmuan seperti penelitian ada ranah untuk mengekspose nya. Media massa bukanlah tempat untuk mengumbarnya. Seorang dokter puskesmas hanya bisa dievaluasi oleh pimpinannya. Secara nasional jika ada masalah yang berhak mengevaluasi adalah Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan tahu benar tugas pokok dan fungsi dokter dan petugas di puskesmas. Di daerah yang mengevaluasi adalah dinas Kesehatan. Dalam kejadian ini sudah selayaknya Bapak Direktur BPJS ini meminta maaf kepada Menteri Kesehatan.

Saya melihat, bahwa hal ini timbul akibat arogansi yang berlebihan . Seorang Direktur BPJS dalam tugasnya merasa bahwa bahwa dialah regulator, dialah evaluator , sehingga keluar statemen seperti ini. Apalagi karena beliau pernah menjadi seorang direktur RS Besar sehingga merasa paham tugas pokok dan fungsi seorang dokter.

Padahal tugas seorang dokter puskesmas berbeda dengan tugas dokter di RS yang lebih kepada pengobatan.
Saya heran dengan seorang dokter pegiat dan pendukung BPJS yang selalu menyatakan di media sosial seperti ini “ Jangan biarkan dan jangan paksa BPJS melakukan hal diluar ranahnya”. Lho ini menghujat Kementerian Kesehatan karena tidak melakukan tugasnya sehingga tugas ini dilakukan oleh BPJS. Seharusnya dokter ini juga minta maaf kepada Menteri Kesehatan.

BPJS, berhentilah menuding dunia kedokteran dan kesehatan di Indonesia. Pertanyaan yang kami lontarkan di Media Massa resmi dan di Media Sosial saja tidak pernah anda jawab. Anda melakukan serangan seperti babi buta, menyerang dokter dokter Indonesia tanpa tahu masalah di Puskesmas. Saya melihat bahwa tujuan anda hanya satu saja, yaitu menyatakan dan mengekspose bahwa Dokter Indonesia Tidak layak bekerja di Puskesmas. Artinya anda menyalahkan Kementerian Pendidikan Nasional sekarang Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Berhentilah menyalahkan orang lain. Ayo ikutlah berkontribusi membangun dunia kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dan seluruh praktisi dibidang kesehatan.

Saya juga curiga jangan jangan nanti berikutnya anda akan mengekspose, karena dokter Indonesia tak layak, maka sebaiknya dokter luar negeri yang bekerja di Puskesmas.

Saya sungguh sungguh berharap bahwa wartawan media massa tersebut salah kutip tentang pernyataan ini.
Terakhir saya punya usul, bagaimana kalau anda diangkat sebagai Kepala Puskesmas didaerah terpencil Kalimantan atau Papua sana mengelola Puskesmas dan setelah satu tahun anda ekspose hasilnya dalam bentuk penelitian. Kami tunggu

Jakarta, 28 Maret 2016.
Dr.Patrianef SpB. SpB(K)V
Dokter Indonesia
Labels: info, kesehatan, sosmed

Terimakasih telah membaca Surat Terbuka Dokter Untuk Direktur BPJS . Silahkan bagikan...

0 Comment for "Surat Terbuka Dokter Untuk Direktur BPJS "

suara21.com. Powered by Blogger.
Back To Top