Kisah Dialog Haru Perjuangan Tuna Netra

Sebenarnya masih pengen hibernasi, tapi sepertinya rugi kalo kisah ini nggak saya bagi.



Tanggal 16 siang, sepulang kerja, saya naik bis, duduk manis di bangku deret belakang biar gak sumuk (gerah, Red). Entah kenapa tetiba saya pengen pindah depan, akhirnya saya duduk disamping mas-mas ini. Begitu dia menoleh, baru saya tau bahwa dia tuna netra, kedua matanya abu-abu. Tak ada pikiran apapun saat itu, ketemu tuna netra hal biasa buat saya. Setidaknya ada 2 tuna netra yang biasa saya temui dalam perjalanan kerja, 1 pengamen dan 1 tukang pijat.

Tiba-tiba mas ini nanya ke saya dimana saya akan turun. Saya jawab alamat saya. Sebagai sopan-santun saya tanya balik dia mau kemana. Ke semarang jawabnya. Tapi saya lalu jadi kepo.

"Semarangnya mana mas?"

"Terminal terboyo bu"

"Memangnya mau kemana mas?"

"Ngaliyan"

"Wah kejauhan kalo turun terboyo, mending turun banyumanik mas, trus naik bis jurusan mangkang turun jrakah. Ngaliyannya mana?"

"Kampus UIN bu"

Sampe disini semakin besar kepo saya, ngapain ya tuna netra ke kampus UIN.

"Kampus berapa? Kalo kampus satu, mas bisa langsung turun di depannya,gak perlu naik bis lagi"

"Sebentar saya telpon teman saya dulu bu, saya juga blm tau kampus berapa"

Lalu dengan ketrampilan menelpon yang tidak kusangka, dia menelpon temannya.

"Kampus satu ternyata bu"

"Oh, ya sudah, masnya turun banyumanik aja naik bis gedawang mangkang, nanti bilang kondekturnya turun kampus satu"

"Ada alternatif lain bu?"

"Ada mas, tapi lebih ribet. Turun banyumanik, naik bis lagi jurusan johar, turun tugu muda trus jalan dikit naik bis jurusan ngaliyan. gimana?"

"Wah ribet ya bu, mending yang pertama tadi"

"Iya mas, tugu muda terlalu ramai kendaraan. Btw, ke kampus satu ada perlu apa mas?"

"Mau ambil nomer tes bu"

"Oh mau daftar kuliah?"

"Mau daftar jadi dosen bu"

Glodakkkkk, saya kaget.

"Brarti masnya sudah S2?"

"Alhamdulillah sudah bu, belum lama lulus dari UIN jogja"

Daaannn saya tidak bisa menahan kepo. Akhirnya dia bercerita, dia buta sejak lahir. Terlambat masuk sekolah karena ortunya orang desa yang tak paham bahwa tuna netra juga bisa sekolah. Dia sekolah di SD biasa, 6 th selesai, tapi karena dia jatuh menjelang ujian, akhirnya nggak lulus SD karena tidak ikut ujian. Sempat masuk SLB setaun juga masuk pesantren setaun sebelum akhirnya masuk SMP. Kenal komputer sejak SMA, dia menghafal keyboard. Kuliah S1nya dia selesaikan dalam waktu 4th (!!!)

"Trus kuliahnya gimana mas?"

"Ya kuliah biasa bu, saya mencatat pakai braille, tapi untuk tugas dan ujian saya gunakan komputer bicara"

"Lulus S1 langsung S2?"

"Iya bu, tapi lulus S1 saya sambil kerja, kasian orang tua kalo harus membiayai. alhamdulillah ada teman nawarin kerja. Kerjanya online, bikin iklan untuk film. Kalo S2 kan kuliahnya dikit bu, tapi tiap hari saya ke kampus nyelesaiin tugas-tugas biar sore sampe malamnya bisa ngerjain kerjaan online."

Saya melongo aja dengerin penjelasannya, gak 'nyandak' pikiran saya membayangkan dia MEMBUAT IKLAN.

"Trus untuk tesisnya gimana mas, kan butuh banyak referensi tuh?"

"Untuk buku, saya dibantu teman bu membacanya, saya kutip yang perlu. alhamdulillah selesai, teman bantu ngerapiin layout aja"

Jleb jleb jleb, saya seperti mendengar Allah bicara : see? Kamu punya mata sehat loh! Masih banyak alesan buat males bikin proposal???

Benar-benar siang yang bikin merinding. Malu banget saya. Dia yang 10th lbh muda dari saya dan buta, tapi pencapaiannya jauh banget di atas saya. Dan caranya menceritakan kisahnya, sungguh gak ada kesan sombong ataupun minta dikasihani, biasa saja, seperti ngobrol dengan teman lama.

Menjelang turun, kami sempat bertukar nama. Dia juga sempat bercerita sudah menikah setaun lalu, dengan gadis yang 'menjelang' buta karena katarak yang terlambat dioperasi. Kalo nggak ada tanggung jawab jemput anak, sebenarnya hari itu pengen saya mengantarkannya sampai njrakah, biar bisa lebih banyak inspirasi yang saya terima dari kisahnya.

Orang buta berprestasi, saya sudah pernah liat di tipi. Tapi bertemu langsung dan ngobrol dengan orang buta yang 'melihat', tak pernah saya sangka. Allah selalu punya cara yang unik untuk 'menjewer' saya.

Terima kasih Mas Priyono, sudah menyapa saya dan berbagi cerita. Saya doakan, juga saya mintakan doa dari semua teman FB saya, untuk keberhasilan dan keberkahan njenengan sekeluarga.

(fb/ Karyati Ulya Hadibasuki)
Labels: hikmah, info, kisah, renungan

Terimakasih telah membaca Kisah Dialog Haru Perjuangan Tuna Netra . Silahkan bagikan...

0 Comment for "Kisah Dialog Haru Perjuangan Tuna Netra "

suara21.com. Powered by Blogger.
Back To Top