"Kantorku Mendunia." Kisah Sederhana Televisi Dakwah Islam

Perkembangan televisi islami saat ini patut disyukuri, telah banyak hadir televisi Dakwah yang bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat.





Walaupun masih terbatas dalam jangkauan, karena biasanya siaran televisi tersebut hanya dapat disaksikan pada wilayah tertentu atau melalui parabola yang tentunya tidak sedikit biaya untuk pemasangannya.

Televisi Dakwah pun hadir dengan keterbatasan dan kesederhanaan dalam penyampaian misinya. Karena tidak seperti televisi swasta lainnya yang bisa "hidup " hanya dari pemasangan iklan, televisi Dakwah bisa berjalan dengan adanya donatur yang setia membantu jalannya dakwah tersebut.

Kisah kesederhanaan televisi Dakwah bisa disimak salah satunya dari Surau TV, Televisi Dakwah asal ranah minang yang hadir melalui satelit Palapa berikut ini.

Kantorku Mendunia

Bekerja memang tak harus memilih tempat. Ya, namanya kerja..dimana saja asal bisa bekerja tak ada masalah. Bagi ku juga begitu, kantor dimana saja tidak masalah. Namun berusaha bagaimana bisa menghasikan kerja yang bisa dinikmati bersama.

Bagi orang yang namanya Televisi, tentu kantornya bagus, besar dan megah. Pernah suatu ketika, saya disebuah tempat servis motor di wilayah Siteba, ditanya " Surautv ?, ada ya Surautv....TV mana? Gabung dengan TVRI ya?...

Lantas ku jawab, ...Tidak Pak. Kita TV sendiri...

Namun dia bertanya lagi...Dimana kantornya...

Lantas ku jawab, kami di Belakang Olo Pak....

Orang mengira televisi kami besar, dan berkantor di tempat yang besar.
Namun hal itu semua merupakan semangat bagi kami untuk berkarya. Bagi kami...biarlah dulu semangat yang besar untuk menciptakan hal itu.

Kami juga bermimpi, bagaimana nantinya SurauTV juga memiliki kantor yang besar. Setiap kami lewat di depan Televisi yang lain...kami hanya bersyukur agar mudahan kantor kita juga bisa seperti mereka. Yaa sebagai penyemangat diri dan sebagai hiburan...

Pernah seorang Tokoh Masyarakat di Kabupaten Solok menelpon Saya. Beliau merupakan ketua grup Senam Lansia di daerahnya, beliau mengatakan akan mengunjungi Surautv. Semua Anggota Lansianya akan berkunjung ke surauTv...

Dengan rasa kaget saya bertanya,...
Pak, berapa orang yang akan datang...
beliau menjawab.. lebih kurang 80 orang.

Mendengar hal itu saya terkejut. Saya memandang dari sudut ke sudut ruangan. Dimana akan di tempatkan orang sebanyak 80 orang. Yang mana ruangan itu hanya biasa di isi oleh 6 orang krew.
Saya dengan memikirkan jawaban, dengan harapan beliau tidak merasa kecewa. Pak...kantor kami hanya kecil... ( dalam pikiran saya...mungkin beliau mengira kantor kami seperti TV swasta lain, yang dapat menampung banyak orang....ya begitulah yang muncul di televisi itu)...

Beliau langsung menjawab, ...ngak masalah Pak. Yang penting bapak mengijinkan kami berkunjung. Kalau ndak muat...biar nanti kami duduk di luar pakai tikar....kami bawa tikar..dan kami berharap nantinya kami di berikan "santapan rohani" oleh Buya.

Dengan perasaan cemas dan penuh kekhawatiran, saya mengatakan, ... baik Pak, insyaallah, dengan senang hati kami akan menanti kedatangan Bapak dan masyarakat. Semoga Allah memberikan kemudahan.

Tak lama berselang, tibalah masanya, pertemuan itu benar benar terjadi. Lansia yang terdiri dari Bapak bapak dan Ibu ibu tersebut datang. Mereka datang dengan berjalan kaki dari luar, sebab mobil mereka tidak bisa masuk..

Dari kejauhan wajah seorang Bapak, senyum melihat saya... Ya karena beliau sudah sering meliahat saya di tv. Saya mengira mungkin Bapak yang menelpon saya kali. Rupanya benar... beliau mendatangi saya.... sambil mengenalkan diri... Pak, Saya yang menelpon bapak sebelumnya.

Tamu saya persilakan masuk dengan menempati ruangan yang ada. Bahkan sampai masuk ke ruangan studio kecil dan sempit yang kami gunakan untuk siaran langsung itupun penuh sesak. Diluarpun tamu banyak yang duduk dan juga berdiri, karena tidak kebagian tempat. Udara di dalam ruangan terasa berkurang, disebabkan banyak yang menghirup udara.. ya disebabkan ruangan itu hanya di aliri angin dari sebuah kipas angin yang tergantung di dinding.

Alhamdulillah, mereka merasa puas. Namun dalam hatinya ... kami tidak tahu.. Tapi kami katakan, di ruangan inilah kami menyapa Bapak dan Ibu di rumah. Mudahan bisa nyaman dengan kondisi yang ada.

Rasa cemas itu sudah berubah menjadi bahagia. Disebabkan sudah selesai menjamu tamu 80 orang yang datang.

Itulah kantor kami....
Diantara keunikan kantor kami ialah, setiap musim hujan lebat datang, kami sudah menyiapkan langkah... kalau datang siang ya ngak masalah. Namun jikalau datang malam.. ini yang asiknya, terendam semua..

Ketika air memasuki kantor kami ( mungkin TV lain belum pernah merasakan) terpaksa TV kami off kan. Disebabkan kondisi tidak memungkinkan, terpaksa kami memunculkan di layar televisi.. "Maaf siaran Anda terganggu"... Ya apa boleh buat, itu berlangsung sampai air kembali surut.
Siaran mati... dan kami langsung aksi cepat.. membersihkan dan mengeringkan ruangan segera, dengan harapan televisi agar bisa segera mengudara. Walaupun semua basah.. namun berkat ada lembaran gabus, di sanalah krew kami tidur, sambil mengendalikan komputer siarnya.

Walaupun itu sering berulang terjadi, namun raut wajah yang berseri terus terpancar dari krew kami semua.
Alhamdulullillah, melalui Pondok yang kecil inilah, SurauTV bisa mengudara sampai ke jagat raya ini. Mulai dari Asia Tenggara, Timur Tengah sampai ke Benua Australia.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kami untuk tetap dapat hadir di layar kaca antum semua, aamiin.



(fb/surautv)
Labels: hikmah, info, kisah, televisi

Terimakasih telah membaca "Kantorku Mendunia." Kisah Sederhana Televisi Dakwah Islam . Silahkan bagikan...

0 Comment for ""Kantorku Mendunia." Kisah Sederhana Televisi Dakwah Islam "

suara21.com. Powered by Blogger.
Back To Top