Ide Gila Santri Ciamis Jalan Kaki 212 (Bagian 7)

Sebuah catatan
Ide Gila Santri Ciamis Jalan kaki 212
Seri 7



Waktu menunjukan pukul 19.00, kafilah pejalan kaki terus melangkah ditengah guyuran hujan gelap malam makin pekat sesekali sorot lampu mobil mengenai wajah-wajah lugu yang berselinap dibalik topi caping bercat merah putih, tak ada suara yang keluar dari mulut mulut mereka khusyu berjalan, paling sesekali terdengar sayup sayup alunan ayat suci Alquran dari mobil komando, dipinggir jalan jarang masyarakat yang ditemukan berjejer karena hujan turun sangat lebat, kebetulan dikiri kanan jalan agak jarang rumah penduduk itulah saat paling berat yang dialami para kafilah, beberapa jam berjalan tibalah kita dipasar lewo garut suasana sunyi berubah menjadi ramai masyarakat sekitar pasar menyambut kami dengan pekikan Allohu Akbar, banyak sekali masyarakat berkumpul disitu seorang ibu mendekati kami,
“pa ini ada titipan dari warga pasar tadi mereka menunggu sejak duhur, kami ingin termasuk orang orang yang membela agama,” kata si ibu, sambil mengusap pipinya yang basah oleh air mata campur air hujan, matanya berkaca kaca memandangi kamii, bahkan ada diantara pedagang pasar yang memberikan belasan payung dan lampu senter untuk anak anak santri, kami mengucapkan syukur dan terima kasih pada masyarakat yang menyambut kami sambil pamitan untuk melanjutkan perjalanan.


Handpone tak henti hentinya bedering begitu diangkat semuanya kebanyakan dari wartawan yang menanyakan,
“kang Sudah sampai mana rombongan? Terus mau istirahat dimana? Kita mau meliputt”, ujar seorang wartwan
semua pertanyaan dijawab dengan sabar dan telaten kalaupun agak kesel juga karena saking banyaknya telpon yang masuk, sangat berat sekali terasa perjalanan malam Rabu itu karena lelah ngantuk dingin dan baju basah bercampur menjadi satu tantangan yang harus ditaklukan, namun tekad yang membaralah yang membuat kami terus melangkah, dalam hati kami berkata " ini mah belum seberapa dan belum ada apa apanya dibandingkan dengan perjalanan Rosululloh dari Makkah menuju Madinah dalam menyebarkan dakwah sembari dikejar kejar musuhh, keyakinan dan rasa itulah yang selalu menjadi obat sepanjang jalan.


Saya jalan agak cepat kedepan mendekati mobil komando, buru buru ambil mikropon,
“apakah masih kuat berjalan sampai kampung nagreg? Atau kita berhenti disini,,”
serempak semua mnjawab “lanjuuuutttt,,,”
“takbiiirr”
“Allohu Akbar Allahu Akbar,” saya berusaha menyemangati peserta padahal jujur jangankan peserta saya sekalipun sebenarnya sudah sangat lelah dan ngantuk badan menggigil ditambah bersin yang tidak berhenti efek dari kedinginan.

ayunan langkah terus berlanjut waktu di hp menunjukan pukul 21.00, didaerah sebelum limbangan kami dapati kerumunan santri dan laskar FPI menyambut kami dengan alunan solawat badar dan tabuhan marawis khas anak pesantren, sebagian mereka siap gabung dengan kafilah kami dari Ciamis, kami saling menyapa bersalaman dengan erat sehingga semangat peserta naik kembali beberapa persen, suasana menjadi hangat kembali karena hujan mulai reda.

rombongan bertambah jumlahnya derap langkah malam itu makin bersemangat, kira2 pukul 11 malam tibalah kami dikampung nagreg sebuah rest area plus rumah makan milik pengusaha asal rajapolah Tasikmalaya, kami disambut banyak orang dengan senyum ukhuwah dan air mata haru yang mucul dari iman, suasana ramai sekali dengan kaum anshor asal Bandung dan wartawan sudah menunggu dari tadi, para santri semuanya masuk mesjid disana sudah tersedia ribuan nasi kotak, hilir mudik masuk toilet menjadi pemandangan paling dominan saat itu,

selesai makan semuanya pada ganti baju yang basah kuyup dan kotor, sebagian ada yang saling pijit kaki dan punggung diolesi hotcream yang banyak tersedia sumbangan para dermawan, waktu menunjukan jam 11.30 beres ganti baju saya berusaha untuk istirahat namun mata sulit dipejamkan karena pegalnya sekujur tubuh, saya manggil kiayi Endang dan minta tolong untuk diurut, baru beberapa menit diurut sudah ada yang manggil,
“kang ada Yang nunggu diluar mesjid,,,” ujarnya,
“iya tunggu diluar saya menyusul,”
mata udah kesat sekali karena kantuk yang semakin parah, para kafilah sebagian sudah mendengkur tidur menikmati karpet empuk berbantal ransel masing-masing, saya bangkit dan berjalan keluar, menuju kios kios kecil dipinggir rumah makan, disana sudah berkumpul sahabat sahabat sesama alumni hamida dari Garut menyalami dan ngajak ngobrol namun karena engga kuat dengan kantuk saya pamit masuk mesjid baru mau rebahan tiba tiba wartawan mendekati,
“pak bisa minta waktu sebentar,” pinta salah seorang wartawan,
“ohh iya mangga,” sambil cari tempat yang bagus awak media mulai wawancara, saya berusaha untuk menampilkan roman muka yang segar dan jawaban yang semangat agar tidak terjadi pemelintiran media yang akibatnya bisa meruntuhkan semangat ummat yang sudah tumbuh dan berdenyutt, hanya 10 menit wawancara selesai, badan sudah oleng kepala serasa berputar akhirnya bluk badan terjatuh ke karpet masjid,

Jam berapa bangunnya,,,?????

Tunggu diseri selanjutnya


(KH. Nonop Hanafi)
Labels: 212, islam, kisah

Terimakasih telah membaca Ide Gila Santri Ciamis Jalan Kaki 212 (Bagian 7). Silahkan bagikan...

1 Comment for "Ide Gila Santri Ciamis Jalan Kaki 212 (Bagian 7)"

Mohon izin copy seri perjalanan santri Ciamis, wasssalam.

suara21.com. Powered by Blogger.
Back To Top